![]() |
| Blog cerita dan gambar |
Oleh Abi
Sabila
Pulang
sekolah, Anisa mendapati Bunda sedang melipat baju yang baru diangkat dari
jemuran, membuat ia teringat dengan sebuah rencana. Khawatir terlupa lagi,
Anisa langsung menyampaikan rencana tersebut kepada sang bunda.
“Bunda,
boleh tidak kalau aku memberikan baju yang sudah kekecilan pada orang yang
membutuhkan?”
“Boleh
saja. Tapi, bukankah dua minggu yang lalu semua baju kecilmu sudah kamu berikan
kepada sepupumu?”
“Masih
ada satu, Bunda. Baju warna biru yang dulu ayah belikan. Boleh ya, Bunda?”
Anisa memohon.
“Oh,
yang itu. Sekarang kamu sudah berubah pikiran? Daripada hanya tersimpan di
lemari, Bunda memang lebih setuju kalau kamu berikan kepada yang membutuhkan.
Bunda yakin Ayah juga setuju dengan idemu. Kalau boleh tahu, kepada siapa baju
itu akan kamu berikan?”
Dengan
semangat Anisapun bercerita bahwa di sekolahnya ada penjual jajanan yang
mempunyai anak perempuan. Usianya dibawah Anisa. Kepadanyalah Anisa berencana
memberikan baju yang sebenarnya sangat special. Baju itu hadiah dari Ayah saat
ulang tahunnya setahun yang lalu. Tapi karena Ayah keliru memilih ukuran, sejak
dibeli baju itu hanya tersimpan di lemari. Masih baru, belum pernah dipakai
sama sekali.
“Kamu
sudah bilang sama anak atau ibu penjual jajanan itu kalau kamu akan memberikan
baju?” tanya Bunda.
Anisa
menggeleng. Sebenarnya ia agak khawatir kalau pemberiannya justru akan
menyinggung perasaan mereka. Terus terang Anisa tidak begitu akrab dengan
mereka.
“Begini,
Anisa. Sebenarnya Bunda mendukung penuh niatmu. Mau diberikan kepada siapa saja,
yang penting kamu harus ikhlas, tidak mengharapkan apapun kecuali ridho Allah
semata. Tapi di pengajian mingguan kemarin, kebetulan ustadzh membahas tentang
prioritas orang-orang yang berhak menerima sedekah kita.”
Anisa
menatap Bunda, tak mengerti apa yang Bunda maksudkan.
Maka
dengan lemah lembut Bunda menjelaskan bahwa meski tidak ada larangan untuk
memberikan sedekah kepada siapapun, tapi sebenarnya ada pihak-pihak yang harus
diprioritaskan. Keluarga dan kerabat lebih utama didahulukan dibanding pihak
lain.
Seperti
yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim, Rasululloh saw pernah bersabda, ““Jika
salah seorang diantaramu miskin, hendaklah dimulai dengan dirinya, jika ada
kelebihan maka untuk keluarganya, jika ada kelebihan lagi untuk kerabatnya.”
Atau beliau bersabda : “Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya.
Kemudian apabila masih ada barulah untuk ini dan itu.”
Juga
ada satu firman Allah yang menunjukkan keutamaan memberi shodaqoh kepada
keluarga, kaum kerabat kemudian tetangga sekitar, berdasarkan firman Allah swt
: “Kepada anak yatim yang mempunyai hubungan kerabat. “ (QS. Al Balad : 15)
Karenanya,
Bunda menyarankan kepada Anisa untuk memberikan baju itu kepada kerabatnya. Ada
satu orang sepupun Anisa yang belum kebagian saat Anisa membagi-bagikan baju
bekas layak pakainya dua minggu yang lalu.
“Jika
kita memiliki beberapa yang bisa kita sedekahkan, tidak masalah kita berikan
kepada beberapa orang, termasuk yang bukan kerabat kita. Tapi Adakalanya, kita
tak mempunyai banyak yang bisa kita berikan, bahkan satu-satunya seperti baju
yang akan kau berikan, kita harus membuat skala prioritas. Siapa yang paling
membutuhkan, dan siapa yang terdekat dengan kita. Jika dua orang sama-sama
membutuhkan, tapi hanya satu yang bisa kita berikan, maka kita utamakan dulu
yang masih ada hubungan keluarga dengan kita. Menurut Bunda, Aisyah adalah
pilihan yang paling tepat. Kita tahu, hidup mereka sangat sederhana. Sudah
semestinya ia kita prioritaskan sebelum orang lain.” Panjang lebar Bunda
menjelaskan.
“Tapi
kalau semua orang lebih mementingkan saudaranya, bagaimana dengan mereka yang
tidak memiliki saudara, siapa yang akan membantu mereka? Apa negara, Bunda?”
Bunda
tersenyum, menatap Anisa yang telah melepas kerudungnya, kegerahan.
“Jangan
khawatir mereka tidak ada yang memperhatikan. Apa yang nabi contohkan, bukan
berarti kita tidak perlu memperhatikan dan membantu orang lain yang bukan
saudara. Bukan itu maksudnya, Anisa. Jika ada dua pihak yang sama-sama sangat
membutuhkan, tapi hanya kepada salah satunya kita bisa membantu, maka utamakan
yang terdekat hubungannya dengan kita. Jika kita mampu, membantu orang lain
yang tidak memiliki hubungan kekerabatan juga dianjurkan. Yang terpenting, kita
harus ikhlas, tidak boleh mengharap imbalan dan tidak juga boleh menyakiti
perasaan mereka.”
“Mengenai orang-orang yang mungkin tidak memiliki keluarga, seperti yang kamu pelajari di sekolah, orang miskin dan anak-anak terlantar seharusnya menjadi tanggung jawab negara, dalam hal ini aparat pemerintahannya. Begitupun dalam pandangan agama, seorang pemimpin wajib memperhatikan kesejahteraan hidup rakyat yang dipimpinnya.” Bunda menambahkan.
“Mengenai orang-orang yang mungkin tidak memiliki keluarga, seperti yang kamu pelajari di sekolah, orang miskin dan anak-anak terlantar seharusnya menjadi tanggung jawab negara, dalam hal ini aparat pemerintahannya. Begitupun dalam pandangan agama, seorang pemimpin wajib memperhatikan kesejahteraan hidup rakyat yang dipimpinnya.” Bunda menambahkan.
Kening
Anisa berkerut. Masih ada yang mengganjal di hatinya. “Tapi kok masih banyak
orang-orang yang hidupnya kekurangan, terlantar di pinggir jalan dan tinggal di
kolong-kolong jembatan. Apa pemerintah kita tidak tahu, pura-pura atau justru
tidak mau tahu? Jangan-jangan, para pejabat negeri ini beralasan kalau mereka
sekedar mengikuti sunah nabi. Karenanya mereka selalu mengutamakan keluarga dan
kerabatnya saja? Memperkaya diri sendiri dengan cara korupsi?”
Bunda
terkekeh. Cara berfikir Anisa memang seringkali melampaui anak seusianya.
“Secara
pribadi seorang pejabat tidak salah jika mengutamakan keluarga dan kerabatnya.
Tapi sebagai aparat pemerintah, mereka bertanggung jawab terhadap kesejahteraan
rakyat yang dipimpinnya. Bukankah dalam ruang lingkup negara, seluruh warga
negara adalah juga keluarganya? Jadi kalau ada seorang pemimpin, pejabat negara
yang tidak peduli dengan rakyatnya, dan hanya mengutamakan keluarga dalam
kehidupan pribadinya, maka ia telah menyalahi amanah yang rakyat berikan
kepadanya. Apalagi kalau sampai korupsi, memperkaya diri dan keluarganya
sendiri dengan mengambil hak-hak rakyat, maka tunggulah di akhirat, ia akan diminta
pertanggungjawabannya.”
Anisa
mengangguk. Bukan sok paham, ia benar-benar telah paham.
“Ya
sudah, kalau begitu baju Anisa yang biru itu buat Aisyah saja. Lain kali, kalau
ada yang sudah tidak muat lagi baru Anisa berikan kepada anak si penjual jajanan.”
“Berdoalah,
Nak. Semoga Allah meluaskan rejeki kita agar kita bisa berbagi dengan banyak
orang. Tak harus menunggu baju kamu kekecilan, tapi kita bisa membelikan
baju-baju baru untuk mereka yang hidupnya kekurangan.”
“Aamiin...”
Sumber: http://www.eramuslim.com
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
mengcopy artikel boleh asal menyertakan nama orang yang bersangkutan dalam sebuah karya ilmiah.