Masih tampak jalanan yang basah karena diguyur hujan tadi
malam, tampak matahari yang mulai terasa hangat menandakan hari telah beranjak
siang. Orang-orang mulai sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aku hanya duduk
diwarung menunggu seorang teman. Kami rencananya akan pergi kehajatan
pernikahan teman kuliah yang akan dilaksanakan siang ini. Sambil memperhatikan
orang yang berlalu-lalang aku terpaku dengan seorang paruh baya yang datang
menghampiri ku.
Bisa ku tebak, kakek ini berumur sekitar 70 tahun. Tampak
sepeda ontel berumur puluhan tahun dipapahnya, dibagian belakang sepeda
tersebut terikat gulungan karung bersama sandal jepit yang tampak lusuh,
dibagian depan sepedanya terikat plastik berwarna hitam yang berisi sesuatu,
dengan telanjang kaki sang kakek berjalan menghampiri ku. Ku lihat dia
kelelahan, tampak titik-titik keringatnya mengalir disekitar wajahnya yang sesekali
disekanya dengan tangan. Sambil tersenyum ramah dia duduk disampingku.
Karena penasaran aku mulai menyusun pertanyaan untuk sang kakek.
Namun sang kakek seperti membaca pikiranku. Belum sempat aku melontarkan
pertanyaan kepadanya, dia telah terlebih dahulu berbicara kepadaku.
“Harus
bersepeda ratusan kilometer untuk mendapatkan sebungkus lauk itu,” helanya
sambil menunjuk bungkusan plastik hitam yang terikat dibagian gagang sepeda
ontelnya. Tampak rasa lelah dan kecewa diwajahnya. Aku pun memberanikan diri
bertanya.
“Memang darimana pak?”, tanyaku gugup.
“Minta makan sama anak dirumahnya disekitar sini. Dia
tinggal bersama suaminya sejak menikah. Saya tinggal sendiri dirumah sekitar 3
jam dari sini,” katanya dengan nada yang masih terengah-engah.
“Sekarang mau pulang lagi?” tanyaku lagi.
“Iya, nanti kalau sudah siang akan terasa panas, saya gak
sanggup kalau sudah terlalu panas,” ujarnya.
Kemudian dia menatapku dan berkata, “saya tadi mau lewat
situ tapi kok jalannya ditutup ya?” tanyanya seraya menunjuk kearah kiri dari
tempat kami berada.
“Iya pak, mungkin lagi ada perbaikan jalan atau razia,” timpalku. “Mungkin bapak bisa lewat sebelah sana, nanti bapak bisa ketemu
terusan jalan yang ditutup itu”, tambahku sambil menunjuk kearah depan dari
tempat kami berada.
“Oh begitu,” ujarnya sambil beranjak berdiri dan kembali
memapah sepedanya. Dia berbalik kemudian tersenyum kepadaku tanpa mengucapkan
sepata katapun. Sang kakek pun pergi dengan sepeda ontelnya.
Aku menghela nafas panjang. Subhanallah, hari ini aku
mendapat pelajaran penting dalam hidup ini. Bagaimana mungkin ayah kandung
sendiri yang telah membesarkan, merawat dan menafkahi anaknya hingga bisa berpikir
dan mencari nafkah sendiri harus rela mengayuh sepedanya ratusan kilometer
hanya untuk sesuap nasi?. Na’uzubillah, begitukah sikap seorang anak ketika
sudah hidup berkecukupan dengan kehidupan barunya, sang bapak yang dulu mungkin
selalu ditunggu-tunggu kepulangannya ketika kerja, sang bapak yang dulu mungkin
tempat mengadu ketika si anak dimarahi oleh sang ibu, sang bapak yang dulu mungkin
tempat bermanja kini harus mengemis kepada anak sendiri demi sesuap nasi.
Oh dunia.
Pelajaran penting hari ini terus membekas dipikiranku hingga
menggerakkanku untuk berbagi cerita kepada saudara-saudaraku semua. Mari lihat
lembali kebelakang, ridho Allah adalah rihdo orang tua, restu Allah adalah
restu orang tua, surga itu ditelapak kaki ibu. Tidak akan masuk surga seorang
hamba yang mendurhakai kedua orang tuanya. Laknat Allah adalah laknat orang
tua, jangan pernah buat orang tua menangis karena kita, jangan pernah menyakiti
hati mereka meski hanya sekali.
“Yaa Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku.
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil. Aammiinn.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
mengcopy artikel boleh asal menyertakan nama orang yang bersangkutan dalam sebuah karya ilmiah.