Minggu, 25 Maret 2012

Pelajaran Berharga dari Seorang Kakek


Masih tampak jalanan yang basah karena diguyur hujan tadi malam, tampak matahari yang mulai terasa hangat menandakan hari telah beranjak siang. Orang-orang mulai sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aku hanya duduk diwarung menunggu seorang teman. Kami rencananya akan pergi kehajatan pernikahan teman kuliah yang akan dilaksanakan siang ini. Sambil memperhatikan orang yang berlalu-lalang aku terpaku dengan seorang paruh baya yang datang menghampiri ku.

Bisa ku tebak, kakek ini berumur sekitar 70 tahun. Tampak sepeda ontel berumur puluhan tahun dipapahnya, dibagian belakang sepeda tersebut terikat gulungan karung bersama sandal jepit yang tampak lusuh, dibagian depan sepedanya terikat plastik berwarna hitam yang berisi sesuatu, dengan telanjang kaki sang kakek berjalan menghampiri ku. Ku lihat dia kelelahan, tampak titik-titik keringatnya mengalir disekitar wajahnya yang sesekali disekanya dengan tangan. Sambil tersenyum ramah dia duduk disampingku.

Karena penasaran aku mulai menyusun pertanyaan untuk sang kakek. Namun sang kakek seperti membaca pikiranku. Belum sempat aku melontarkan pertanyaan kepadanya, dia telah terlebih dahulu berbicara kepadaku. 

“Harus bersepeda ratusan kilometer untuk mendapatkan sebungkus lauk itu,” helanya sambil menunjuk bungkusan plastik hitam yang terikat dibagian gagang sepeda ontelnya. Tampak rasa lelah dan kecewa diwajahnya. Aku pun memberanikan diri bertanya.

“Memang darimana pak?”, tanyaku gugup.
“Minta makan sama anak dirumahnya disekitar sini. Dia tinggal bersama suaminya sejak menikah. Saya tinggal sendiri dirumah sekitar 3 jam dari sini,” katanya dengan nada yang masih terengah-engah.
“Sekarang mau pulang lagi?” tanyaku lagi.
“Iya, nanti kalau sudah siang akan terasa panas, saya gak sanggup kalau sudah terlalu panas,” ujarnya.

Kemudian dia menatapku dan berkata, “saya tadi mau lewat situ tapi kok jalannya ditutup ya?” tanyanya seraya menunjuk kearah kiri dari tempat kami berada.

“Iya pak, mungkin lagi ada perbaikan jalan atau razia,” timpalku. “Mungkin bapak bisa lewat sebelah sana, nanti bapak bisa ketemu terusan jalan yang ditutup itu”, tambahku sambil menunjuk kearah depan dari tempat kami berada.

“Oh begitu,” ujarnya sambil beranjak berdiri dan kembali memapah sepedanya. Dia berbalik kemudian tersenyum kepadaku tanpa mengucapkan sepata katapun. Sang kakek pun pergi dengan sepeda ontelnya.

Aku menghela nafas panjang. Subhanallah, hari ini aku mendapat pelajaran penting dalam hidup ini. Bagaimana mungkin ayah kandung sendiri yang telah membesarkan, merawat dan menafkahi anaknya hingga bisa berpikir dan mencari nafkah sendiri harus rela mengayuh sepedanya ratusan kilometer hanya untuk sesuap nasi?. Na’uzubillah, begitukah sikap seorang anak ketika sudah hidup berkecukupan dengan kehidupan barunya, sang bapak yang dulu mungkin selalu ditunggu-tunggu kepulangannya ketika kerja, sang bapak yang dulu mungkin tempat mengadu ketika si anak dimarahi oleh sang ibu, sang bapak yang dulu mungkin tempat bermanja kini harus mengemis kepada anak sendiri demi sesuap nasi.

Oh dunia.

Pelajaran penting hari ini terus membekas dipikiranku hingga menggerakkanku untuk berbagi cerita kepada saudara-saudaraku semua. Mari lihat lembali kebelakang, ridho Allah adalah rihdo orang tua, restu Allah adalah restu orang tua, surga itu ditelapak kaki ibu. Tidak akan masuk surga seorang hamba yang mendurhakai kedua orang tuanya. Laknat Allah adalah laknat orang tua, jangan pernah buat orang tua menangis karena kita, jangan pernah menyakiti hati mereka meski hanya sekali.

“Yaa Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil. Aammiinn.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mengcopy artikel boleh asal menyertakan nama orang yang bersangkutan dalam sebuah karya ilmiah.